Ketika kami memutuskan untuk segera meresmikan hubungan kami yang berjarak ratusan kilometer dan hidup di dua daratan yang berbeda, banyak keluarga, kerabat dan kawan lama yang bertanya " bagaimana itu bisa terjadi? darimana awalnya? kamu disana dia disini dan bla bla bla..." well at least pada saat itu saya sudah mempersiapkan jawaban yang cukup berarti dari pertanyaan yang sebelumnya sudah sangat kami antisipasi tersebut...he he he
Hhmm...untuk memulai menjawabnya kami mungkin harus menghubungi doraemon terlebih dulu buat minjem pintu kemana saja punya dia atau beli mesin waktu kaya di film film fiksi jaman dulu agar bisa kembali ke beberapa tahun yang lalu saat saya sedang asyik nongkrong di bangku SMU dan istri saya sedang duduk manis di kursi SLTP...
Awal perjumpaan kami terjadi di salah satu Dept. Store terkemuka di kota Intan Garut, saat itu saya dan dua orang kawan saya bermaksud untuk sekedar memuaskan rasa ingin membeli suatu barang (yang saat itu bagi kami tak akan pernah bisa tanpa menyodorkan telapak tangan pada orang tua kami meminta rupiah) ketika entah dari mana datangnya lewat di depan kami dua orang gadis yang kemungkinan sedang melakukan window shopping , yang satu berbodi sintal dengan kulit sawo matang dan pipi terlihat chubby dan satunya lagi (yang membuat jantung saya berhenti berdetak selama sepersekian detik) memiliki kulit putih bercahaya dan paras cantik dengan matanya yang indah, tiba tiba ...set.. set.. set.. view di depan saya sesaat berkelebatan berubah dari latar belakang jejeran baju baju di gantungan dan manekuin manekuin serta etalase menjadi panggung show para model gemerlapan dengan berbagai cahaya lampu warna warni khas dengan si gadis putih tadi sedang berjalan dengan anggunnya...tap.. tap.. tap.. dari sana semua pergerakan seakan dipaksa untuk di slow motion kan untuk memberikan kesempatan bagi saya melihat keindahan ciptaan-Nya...tak terasa suasana yang hangat merasuk jiwa tadi berlalu bersama hilangnya gadis itu di antara baju baju di rak dan gantungan yang ada, saat itu juga saya dan kedua kawan saya tadi langsung sepakat untuk segera melakukan pembuntutan terhadap si tersangka perampok hati saya tadi dan beberapa menit kemudian kami sudah berada beberapa langkah di belakang mereka lagi. Saat itu yang kami lakukan hanya berusaha mengimbangi langkah kaki kaki mereka yang sekali kali megarahkan pandangan nya ke belakang untuk memeriksa jarak diantara kami sampai akhirnya salah seorang kawan saya tadi bersedia mengorbankan dirinya untuk mengajak kedua gadis tadi berkenalan, si gadis berpipi chubby tadi langsung merespon " Sarah..." balasnya setelah kawan saya tadi menyodorkan tangan nya "dan ini LENDA..." sambil mengarahkan pandangan kami ke arah gadis yang bagaikan angel tadi, dia hanya tersenyum satu jurus saja tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. dan si Sarah segera menyebutkan nomor telpon yang bisa dihubungi sesaat setelah kawan saya tadi dengan semangat menanyakan nya.
Dari sana mereka langsung melangkah pergi meninggalkan kami yang serempak berteriak kegirangan bagaikan tiga orang pengangguran yang telah puluhan tahun menganggur mendapatkan berita bahwa mereka diterima di sebuah perusahaan bonafit tanpa mengikuti serangkaian tes dan ujian dan langsung mendapat jabatan manager (bisa dibayangkan kan? hehehe) karena berhasil mendapatkan satu rangkaian nomor yang begitu penting artinya.
Beberapa jam setelah kami pulang dari berjalan jalan tadi kami menukarkan beberapa lembar uang ribuan dengan beberapa puluh koin ratusan di toko kelontong salah satu kawan saya tadi dan langsung menuju ke telepon umum terdekat (yang saat itu masih merupakan telepon umum diberi atap dan tiang tanpa tempat duduk) dan langsung memencet nomor yang diberikan si Sarah tadi...tut tut tuut tut tut... "halo tiasa nyarios sareng Sarah?..." kawan saya tadi memulai percakapan...(saya tidak akan membeberkan secara rinci bagaiman percakapan kami di telepon berlangsung karena itu dilindungi oleh hak cipta dan undang undang privasi juga hehehe). Singkat cerita beberapa hari ke depan setiap sore saya sering menghubungi gadis impian saya tadi dan kemudian kami jadian (istilah anak muda untuk mendefinisikan suatu hubungan) lewat telpon dan tak pernah bertemu langsung face to face untuk mengungkapkan perasaan bisa dicatat hanya satu kali saja kami pergi kencan keluar yaitu pergi nonton film di sebuah bioskop itu pun double date dengan kawan saya yang juga berhasil mendapatkan Sarah.
Tidak banyak yang bisa saya ceritakan seputar masa jadian kami yang pertama karena hanya seumur jagung( -/+ 10 harian), beberapa hari dari setelah double date tadi hubungan kami disudahi lewat udara (dengan cara yang sama kami memulainya dan dengan cara yang sama bagaimana kami menjalaninya: via telepon) dengan alasan yang menurut saya tidak masuk diakal yaitu gara gara banyak gossip yang beredar bahwa saya bagaikan agen 007 James Bond yang sering muncul di film nya dengan bergonta ganti pasangan, saya setuju tidak setuju dengan hal ini, setujunya karena James Bond adalah jagoan favorit saya yang serba bisa (wish i can do things like he does) tidak setujunya karena James Bond adalah seorang love adventurer sejati sedangkan saya mendekati ke arah sana pun tidak sama sekali. Titik.
Yaaa rice has become bubur apa mau dikata si dia sudah tidak mengharapkan saya lagi, but anyway apapun yang terjadi life goes on dan saya kembali ke pangkuan kawan kawan lagi dengan banyak melakukan nongkrong sana sini, maen sana maen sini, mencoba mengalihkan pikiran dari bayangan bayangan yang tak kan bisa teraih lagi. Ada kalanya saking tidak kuat menahan rasa kangen ingin ketemu dan menumpahkan segala macam pertanyaan dan penasaran saya mencoba untuk menelusuri atau mencari tahu dimana keberadaan nya sekarang (selama kami jadian saya tidak pernah mengetahui dimana rumahnya). tapi tak sekalipun kami dijodohkan untuk bertemu kembali. Hilang. Lost. Gone with the wind. So saya memutuskan untuk menutup halaman yang berjudulkan Lenda Fardia saat itu dan mencoba meyusun kembali serpihan serpihan hati yang telah terkoyak (beuh...jadi siga shakespeare kieu???)...
8 tahun kemudian...
(to be continued)
No comments:
Post a Comment